February 25, 2018

About Someone

Photo by Noah Silliman on Unsplash



I might be wrong to say this, but our companionship may just delaying somewhere in the future. We have actually met somewhere in the past but we forget to light up the match.

Then we met here in a moment where we find ourselves in the most unstable situation, nothing fancy, no future yet, just a tip of realization that we are (at least) not alone.


Let me define you as a diamond inside a rock, the only way to get to you is to crack the covering stone. It sure hard, but I would like to try if you let me.


Bravery is my only sword, to finally throw my deep dark thoughts and showed my shadowy corner beyond anyone I ever invited to.


Imagine we are in the gambling table, I was there waiting for your next move. Winning the game over you was my pleasure. I am such a competitor but believe me, it is the only way you might need me.


Though I'm not sure what you are looking for in life, I hope someday you will found those things in me.
Share:

Unlovely Parental Story

Mari buka tahun 2018 dengan tulisan berbahasa Indonesia dan sedikit kontempelasi pribadi tentang peran gue sebagai seorang anak menahun lalu dan hingga sekarang.

Beberapa tahun lalu, gue sempet merasakan jadi anak broken home (berasa keren) karena orang tua gue sempet pisah kurang lebih dua tahun setelah akhirnya mereka memutuskan untuk rujuk. Di beberapa postingan murmuring blog ini, gue sempet bersumpah serapah tentang betapa buruknya mereka (orang tua gue) selama ini menjalani peran mereka sebagai orang tua. Sampai akhirnya gue bertemu dengan dua teman yang orangtuanya bahkan jauh lebih tidak bertanggung jawab.

Sebut saja namanya Delima. Temen gue yang satu ini udah yatim sejak dia remaja, bokapnya meninggal karena sakit dan meninggalkan istri dan tiga orang anak. Ibunya Delima hidup menjanda sampai sekarang dan belum berkeinginan untuk menikah lagi. Pekerjaanya sebagai agen asuransi tidak banyak membantu perekonomian keluarga. Maka Delima lah yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga; membayar kontrakan rumah hampir sepertiga penghasilannya, meminjami ibunya uang untuk beli kebutuhan sehari-hari, dan kebutuha lainnya ketika tidak banyak orang yang bergabung jadi anggota asuransi.

Delima punya adik perempuan yang sekarang sedang kuliah di universitas negeri. Adik lelakinya tidak lulus sekolah dan tumbuh jadi pribadi yang pemalu dan minder (gue punya adik lelaku juga yang macem begini, ckck). Adik-adiknya belum ada yang bisa diandalkan untuk membantu meringankan beban ekonomi bersama.

Kadang Delima berkeinginan untuk segera menikah agar bisa menyerahkan kendali kepada ibunya sebagai kepala keluarga dan belajar untuk memegang tanggung jawab. Bagaimana tidak, penghasilannya habis untuk menghidupi keluarganya tanpa bisa menabung untuk masa depannya sendiri.

Teman gue yang lainnya bernama Dahlia. Dia tinggal bersama nenek dari keluarga bokapnya udah sejak kecil karena orangtuanya punya bisnis makanan, jadi agak kelimpungan untuk mengurusi anak kecil. Dahlia masih duduk di bangku kelas dua SMP  ketika bokap dan nyokapnya memutuskan untuk bercerai setelah dikaruniai tiga anak. Ibunya menikah denga pria lain dan melanjutkan usaha makanan, sementara bokapnya bekerja serabutan di daerah Bogor. Kedua orang tua Delima tidak ada yang mengurusi anak-anaknya. Mereka semacam 'dititipkan' di rumah nenek tanpa bekal. Tidak ada nafkah pasti dari kedua orangtuanya, akhirnya Delima sebagai anak tertua menanggung semua kebutuhan adik-adiknya, bahkan membayar sejumlah uang kepada bibinya untuk jatah makan perbulan dan bayar listrik.

Jangankan uang, perhatian dan kasih sayang adalah salah satu hal langka yang mereka bisa dapatkan dari kedua orangtuanya. "Mereka mah SMS gue kalo ada butuhnya doang," ungkap Delima. Bahkan untuk menghadiri rapat sekolah adiknya dan mengambil raport, menjadi tugas Delima. Ia bahkan menetekan air mata di satu sesi curhat.

Gue merasa tertampar mendengar cerita mereka. Selama ini gue kurang bersyukur dengan apa yang gue punya; orang tua yang masih sehat dan sayang banget sama anak-anaknya. Betapa malunya gue pernah menuntut orang tua gue untuk nguliahin semua anaknya, beli rumah yang lebih layak buat tinggal, atau ngasih perhatian lebih jika hal sebelumnya gak bisa mereka penuhi.

Tapi kalo dipikir, orang tua mana sih yang gak pengen semua anaknya sukses, berpendidikan, atau menyediakan tempat tinggal yang layak untuk disebut rumah. Mereka sudah berusaha sepanjang hidup mereka, cuma ya.. memang rejeki yang dicukupkan hanya sebatas apa yang mereka punya saat ini.

Gue terlalu banyak melihat teman lain yang punya orang tua 'hebat', mampu memberikan kasih sayang dan mencukupi kebutuhan anaknya sekuat tenaga lalu membandingkan dengan apa yang gue punya. Lupa kalo di sisi lain kehidupan, ada banyak manusia yang bahkan gak kenal siapa orang tuanya.

Mungkin gue akan kena kutukan anak durhaka. Tapi gue yakin, sejahat apapun gue perah berprsangka buruk terhadap bokap dan nyokap, mereka akan selalu menerima dan memafkan. Seperti yang mereka lakukan akhir-akhir ini. Satu hal yang gue sadari; gak gampang jadi orang tua.
Share:

December 26, 2017

Women, Men, and Cigarettes

Three of five girl friends of mine are smoker, one of them is a social smoker, two others are active smokers.
All of them agreed smoking are a bad habit.
All of them considering one day they would stop.
All of them hoping someday there is a guy who able to change them.
Someone who made them stop smoking.

Then I had a thought:

Why bother changing your habit because of a man?
Why don't you find a guy who understand that women also need to smoke?
If you find a reason to stop smoking for the sake of your lungs then do it.
Not because a man told you so.

But I couldn't tell em.

Share:

Outta Place

Have you ever find yourself lost in the middle of a group talk? You hate the conversation but you couldn’t escape and you do nothing just because you are too lazy to defend an argument? I did it very often for the sake of world peace.

Me and my cubical friends always had casual conversation during lunch break,  mostly about brandnew apparel they're gonna buy early next month or they just gossiping or joking around, and their favorite joke was about sex. 

Most people would laugh out loud to sex-jokes, but I kinda offended if I was in the middle of it.

I mean, talking about your penis, your vagina, or your boobs or any other raunchy things without any good intended such as self-educate, sharing problems, or anything for your mental healt. What's for? It's not something proper to laugh at. 

Sexual talk considered as a personal and serious matter to me, but not to my friends. Feels like I’m a lost Digimon in the middle of Pokemon movie. I can't use my power to defeat them, because I'm not in the right scene. 

I don’t know, I just can't find the hilarious side of their jokes. I can't take sex-jokes as a joke. I am more into sarcastic and thoughtful jokes like what Sheldon did in Big Bang Theory. 


Maybe I'm being too serious, whatever. 
Share: