Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

February 25, 2018

Unlovely Parental Story

Mari buka tahun 2018 dengan tulisan berbahasa Indonesia dan sedikit kontempelasi pribadi tentang peran gue sebagai seorang anak menahun lalu dan hingga sekarang.

Beberapa tahun lalu, gue sempet merasakan jadi anak broken home (berasa keren) karena orang tua gue sempet pisah kurang lebih dua tahun setelah akhirnya mereka memutuskan untuk rujuk. Di beberapa postingan murmuring blog ini, gue sempet bersumpah serapah tentang betapa buruknya mereka (orang tua gue) selama ini menjalani peran mereka sebagai orang tua. Sampai akhirnya gue bertemu dengan dua teman yang orangtuanya bahkan jauh lebih tidak bertanggung jawab.

Sebut saja namanya Delima. Temen gue yang satu ini udah yatim sejak dia remaja, bokapnya meninggal karena sakit dan meninggalkan istri dan tiga orang anak. Ibunya Delima hidup menjanda sampai sekarang dan belum berkeinginan untuk menikah lagi. Pekerjaanya sebagai agen asuransi tidak banyak membantu perekonomian keluarga. Maka Delima lah yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga; membayar kontrakan rumah hampir sepertiga penghasilannya, meminjami ibunya uang untuk beli kebutuhan sehari-hari, dan kebutuha lainnya ketika tidak banyak orang yang bergabung jadi anggota asuransi.

Delima punya adik perempuan yang sekarang sedang kuliah di universitas negeri. Adik lelakinya tidak lulus sekolah dan tumbuh jadi pribadi yang pemalu dan minder (gue punya adik lelaku juga yang macem begini, ckck). Adik-adiknya belum ada yang bisa diandalkan untuk membantu meringankan beban ekonomi bersama.

Kadang Delima berkeinginan untuk segera menikah agar bisa menyerahkan kendali kepada ibunya sebagai kepala keluarga dan belajar untuk memegang tanggung jawab. Bagaimana tidak, penghasilannya habis untuk menghidupi keluarganya tanpa bisa menabung untuk masa depannya sendiri.

Teman gue yang lainnya bernama Dahlia. Dia tinggal bersama nenek dari keluarga bokapnya udah sejak kecil karena orangtuanya punya bisnis makanan, jadi agak kelimpungan untuk mengurusi anak kecil. Dahlia masih duduk di bangku kelas dua SMP  ketika bokap dan nyokapnya memutuskan untuk bercerai setelah dikaruniai tiga anak. Ibunya menikah denga pria lain dan melanjutkan usaha makanan, sementara bokapnya bekerja serabutan di daerah Bogor. Kedua orang tua Delima tidak ada yang mengurusi anak-anaknya. Mereka semacam 'dititipkan' di rumah nenek tanpa bekal. Tidak ada nafkah pasti dari kedua orangtuanya, akhirnya Delima sebagai anak tertua menanggung semua kebutuhan adik-adiknya, bahkan membayar sejumlah uang kepada bibinya untuk jatah makan perbulan dan bayar listrik.

Jangankan uang, perhatian dan kasih sayang adalah salah satu hal langka yang mereka bisa dapatkan dari kedua orangtuanya. "Mereka mah SMS gue kalo ada butuhnya doang," ungkap Delima. Bahkan untuk menghadiri rapat sekolah adiknya dan mengambil raport, menjadi tugas Delima. Ia bahkan menetekan air mata di satu sesi curhat.

Gue merasa tertampar mendengar cerita mereka. Selama ini gue kurang bersyukur dengan apa yang gue punya; orang tua yang masih sehat dan sayang banget sama anak-anaknya. Betapa malunya gue pernah menuntut orang tua gue untuk nguliahin semua anaknya, beli rumah yang lebih layak buat tinggal, atau ngasih perhatian lebih jika hal sebelumnya gak bisa mereka penuhi.

Tapi kalo dipikir, orang tua mana sih yang gak pengen semua anaknya sukses, berpendidikan, atau menyediakan tempat tinggal yang layak untuk disebut rumah. Mereka sudah berusaha sepanjang hidup mereka, cuma ya.. memang rejeki yang dicukupkan hanya sebatas apa yang mereka punya saat ini.

Gue terlalu banyak melihat teman lain yang punya orang tua 'hebat', mampu memberikan kasih sayang dan mencukupi kebutuhan anaknya sekuat tenaga lalu membandingkan dengan apa yang gue punya. Lupa kalo di sisi lain kehidupan, ada banyak manusia yang bahkan gak kenal siapa orang tuanya.

Mungkin gue akan kena kutukan anak durhaka. Tapi gue yakin, sejahat apapun gue perah berprsangka buruk terhadap bokap dan nyokap, mereka akan selalu menerima dan memafkan. Seperti yang mereka lakukan akhir-akhir ini. Satu hal yang gue sadari; gak gampang jadi orang tua.
Share:

August 15, 2012

Gara-gara Guguk Salam

Suatu hari di sore yang aneh..


“Liat, Bapak beli guguk!” Suara bokap baru datang berbarengan dengan suara motor bebeknya.


“Mana? Mana?” Sahut adik gue semangat langsung nyamperin bokap di teras rumah.


“Ih, lucu!” Nyokap yang lagi jemur baju ikutan nyaut.


“Wah, ada peliharaan baru nih di rumah, tapi mau di kandangin dimana tuh anjing.” Gue yang lagi di dapur (ketauan banget lagi ga puasa) ikut nyaut dalam hati.


Ga lama kemudian adik gue mendatangi dapur sambil menggendong si anak anjing.


“Liat teh, lucu kan?!” Katanya sambil menyodorkan moncong anak anjing berbulu cokelat muda itu ke muka gue secara tiba-tiba.


“Astagfirulloh!!!” reflek menghindar, gue jatoh ngejengkang mendarat dengan pantat saking kagetnya. Takut anjing itu ngigit atau lebih parah jilatin muka gue.


Bukannya prihatin, adik gue malah ketawa ngakak. Apanya yang lucu, dasar adik durhaka! Gue mengutuk dalam hati. Lambat laun gue mulai menyadari sesuatu, semakin ditatap, pandangan si anak anjing itu semakin kosong. Barulah gue sadar kalo anak anjing itu hanyalah seekor boneka. Sial! Mirip banget.


Ga lama bokap masuk dan langsung ikut-ikutan ketawa denger adik gue cerita peristiwa ngejengkangnya gue. -___-“ (Akhirnya gue sadar, ternyata gue emang bakat jadi anak yang terbully.. *Cih!)


“Lucu kan,“ bokap ngelus-ngelus kepala si anak anjing.


“Kirain beneran anjing, Pak.” Gue ikut-ikutan ngelus si anak anjing, pura-pura seneng. Rasanya pengen gue copot jaitan di tengkuknya pake dedelan biar kepalanya lepas. Tapi gue ga sanggup, seakan dihipnotis tampang unyu si anak anjing itu. (Mulai drama…)


Sementara adik gue masih ketawa ga berenti.


Harga diri gue Meeen!!!


“Heh!” bentak gue galak. Adik gue diem. Bentar doang, abis itu ketawa lagi. Sial!


“Mau dikasih nama siapa guguknya?” Kata nyokap yang tiba-tiba masuk bawa-bawa ember kosong.


“Guk-guk, Guki!” Adik gue nyaut.


“Sekalian aja Juki.” Kata gue langsung keingetan salah satu pemain PPT.


“Guguk Salam.” Jawab bokap mantap.


Hening sesaat.


-_____-"


Guguk Salam? What a world?! Bokap lagi kepengen punya anak lagi ato pegimane sih, gue ga ngerti. Agak aneh aja punya boneka dinamain sama kaya nama gue, seperti derajat gue turun menjadi setara dengan mahluk busa berbulu itu.


Nyokap dan adik gue ketawa, ngakak.


Sementara gue bingung menentukan reaksi, harus ikut tertawa atau pingsan seketika.


Gue memutuskan untuk pingsan.


*****

Malemnya adik gue dan nyokap berdua-duaan di kamar cekikikan. Lagi ngapain pasangan ibu dan anak itu gerangan?  Penasaran, gue masuk. Tau apa yang gue liat? Ternyata mereka berdua lagi berfoto sama si Guguk Salam itu. Seperti biasa, gue langsung bikin ekspresi gini -___-“ dan berdiri di depan pintu sambil ngeliatin pasangan ibu dan anak serta hewan kesayangan imitasi mereka bercengkrama.


“Guguknya lucu ya bu, coba kalo hidup beneran.” Kata adik gue naif, melirik ke arah gue kemudian ke nyokap.


Gue diem.


Nyokap diem.


Gue masih berdiri di pintu. (Trus ?!)


Tiba-tiba adik gue langsung berkata “Hiduplah… hiduplah.. hiduplah..” sambil goyang-goyangin badan si Guguk Salam seperti membaca mantra. Entah berapa tingkat ke-naif-an adik gue yang satu itu, mungkin kalo ada mata kuliah Kenaifan dengan bobot SKS 6 sekalipun, adik gue akan dapet nilai A++. Saking naifnya.


“Heh, Jangan! Kalo hidup beneran ibu yang takut!” nyokap ngomel.


Adik gue manyun.


FYI, sampai saat ini pun si Guguk Salam masih jadi primadona di rumah. Dipegang dan dielus-elus. Kadang diajak ngobrol, ga cuma sama adik gue yang mengharapkan dia hidup, tapi sama semua penghuni rumah. Mau liat mahluknya seperti apa? Ini dia..

                                                        Guguk Salam. Imut,  mematikan.

**Pesan moral: Jangan beli boneka anjing.


Share:

July 26, 2012

Ng4laY Di S3veL


Where did this picture taken? Hell yeah! We were at Seven Eleven! Rasanya seperti jadi anak 4lay sehari, cuma bedanya ga joget cuci-cuci-jemur-jemur, kita cuma minum Slurpee dan makan ciki pake saus keju sambil duduk-duduk teras depan. *cih!  Why Sevel selalu identikan dengan konsep 4lay? Entahlah.. tapi kalo di Bekasi ada Sevel 24H gue mungkin akan menjadi kalong 4lay disana. :p>

Gue dan seorang Kakak (Tegi), ditugasi untuk mengantar dua bocah di atas beli perlengkapan sekolah untuk tahun ajaran baru. Yang satu baru masuk SMA dan yang satu masih belum bosen di SMP. Ga tanggung-tanggung, beli alat tulis aja sampe ke Pondok Labu, emang di Cibinong ga ada yang jualan pulpen?! 

Okeh, jadi gini, Tegi punya rekomendasi toko buku yang harganya miring dekat terminal Pondok Labu, namanya Toko Buku Aneka Buana atau lebih sering disebut AB. Tapi menurut gue ini semacam toko multifungsi. Tidak hanya perlengkapan alat tulis saja, tapi ada pasar swalayan di lantai terbawah dan toko baju seragam di lantai dua serta toko buku di lantai paling atas, lantai tiga.

Puas belanja pensil dan penghapus, kita memutuskan untuk cari tempat istirahat. Kebeulan tadi pas berangkat liat sevel deket-deket situ. Jadilah kita mampir, membeli minuman dan beberapa kudapan dan menghasilkan foto di atas. Taraa!!! Sekian. 

*Bhik!
Share:

May 19, 2012

#Day17 - Dan ternyata...


Dan ternyata, pas kemaren pulang, kehadiran gue laptop gue adalah sebuah anugerah buat adik gue Rully a.k.a Uwi seekor anak SMP yang lagi ikut lomba menggambar dengan paint brush di sekolahannya. Pasalnya PC dirumah lagi dibawa bokap entah kemana sejak seminggu yang lalu, jadinya beliau tidak bisa latihan untuk prepare lomba besok :D *puk puk* mata sembabnya terhapus sudah akan kehadiran gue laptop gue XD

Dan ternyata, di tahap awal beliau masuk 10 besar, entah di urutan berapa, dengan tema pilihan “Buku adalah gudang ilmu” (kalo ga salah) Ini gambarnya…


Dan ternyata, para finalis 10 besar ditugaskan untuk membuat satu gambar lagi dengan memilih tema  berikut; 
1. Buku
2. Narkoba, dan
3. Kebersihan. 
Tadinya beliau mau menggunakan tema yang sama untuk gambar keduanya, namun berhasil gue bujuk untuk memilih tema narkoba, dan jeng jeng! inilah hasilnya.


Dan ternyata, gue masih merasa pil nakrobanya terlihat kurang garang menyeramkan, kesannya malah seperti cokelat cha-cha :9 *halah!

Dan ternyata, sampe saat ini gue belum dapet kabar soal hasil perlombaannya.

Dan ternyata, judul postingan ini ga nyambung sama sekali dengan isinya. Okesip.
Share: