Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

January 10, 2017

Ciremai: Where I Found Things Matter during Climbing

Holo 2017, this is my first writing on you. I have something to tell from my last bittersweet journey to the roof of Ciremai Mountain.

Yes, a mountain. A place where Indonesian youth mostly made their background of Instagram feeds with somekinda wise-like caption and hastag as the ornaments. Tsk.

Lemme get it right. I never like to put myself in labels 'anak gunung', 'pendaki', or 'pendaki cantik' *puke over myself* or anything close. Never had in mind to conquer Indonesia summits existed. No. I just simply love to let myself be in any another places beside my current nest to have some awesome journey whatsoever. I just simply say yes on the very first adventure-call.

Anyway, on my way up, I kinda disturbed by a fellow that had this anyone-please-bring-my-carrier-I-am-exhausted kinda thought in the very beginning of the journey. FYI, this very ‘experienced’girl had made herself over four summits (include; Tampomas, Lembu, Cikurai, Ciremai,) and using #pendakicantik hastag on her Instagram post, lmao. I mean she called herself mountaineer but keep that kinda thought in her brain? Meh.

Well, if you feel you can't carry that burden of your belongings while taking sheers road, better off to the city. Be a city traveler instead. There are lots of hotels you don't need to carry tons of weight everywhere. Easy.

If you insisted to go over summit, please find a fucking porter. Do not be a damn burden to your travel mates, they had even more weight to carry on (if you even notice). Even if you are a female, wait, no. Foremost if you are a female creature, don't act like you are weak. It’s a mountain, you comprehend properly, suck that pain. Don’t make that ‘emancipation’ you bragging about worthless, woman.

But then, off course no one agreed with me because people you met on the mountain were the nicest people on earth, seriously. They will help you anyway.

I don't know, it’s kinda awkward for me glancing at some people awesome picture and almighty quotes of their Instagram post, while I acknowledge their spirit lack of power back then. Well, I guest they've learned something after all.

For me, what I learned during climbing was; you need to bring a spirit fully charged of independence, enthusiasm, and self-responsibility. That’s all. Because the awesome Instagram post was just a bonus, how much you acknowledge your inner power and spirit along the way was the only reasonable reason why you went climbing. Didn't you?


*There's also a first-timer fellow that amaze me because she's very kind and had a powerful spirit. Even tough her boyfriend came along, she'd never act spoiled or having this darling-please-bring-my-carrier-I-am-exhausted behavior. She had responsibility over herself, that was awesome. I like her :)
Share:

June 10, 2012

Tragedi 7Up

Terharu, ketemuan perdana sama 7up
Gue pernah punya tragedi dengan jenis minuman bersoda yang satu ini. Tragedi yang bikin gue agak histeris tiap ngeliat 7up bertengger di rak-rak minimarket. Jadi, pertama kali gue kenalan sama produk ini adalah ketika gue nonton film merjudul "My Sister Keeper", yang menceritakan tentang seorang adik perempuan yang ingin menjadi penjaga gawang *ngaco!
Jadi disitu ada adegan dimana si-tokoh-utama-yang-gue-lupa-namanya-siapa ngobrol sama seorang jaksa di ruang kerjanya jaksa dan ditawarin mau minum apa. Si tokoh yang lagi murung itu lalu berkata “Seven up, please". Entahlah, tapi gue saat itu berasumsi kalo 7up bisa menaikan level kebahagian kalo lagi sedih. Makannya si tokoh memilih untuk minum 7up daripada minum yang lain. Sejak saat itu gue langsung suka sama merk minuman bersoda berwarna ijo itu. Sesimple itu.

Nah, itu baru intro, sekarang masuk ke tragedinya. Jadi waktu itu lagi backpacker-an menuju Bali bersama Ainun, kami sengaja mampir ke Jogja selama beberapa hari dan memutuskan untuk mengunjungi Candi Prambanan.  Sebelum masuk, seperti biasa kita nyetok minuman dari luar kawasan candi, di sebuah toko swalayan yang lumayan besar. Nah, di ujung rak minuman bersoda, di samping deretan kaleng Rootbeer, gue melihat botol-botol hijau bertuliskan 7up. Wohoo! Gue jingkrak-jingkrak saat itu juga, karena akhirnya gue meminum minuman yang sama dengan tokoh di film itu! *oke, agak lebay sih -__-“ tapi yang jelas, gue emag seneng banget saat itu.

Sepanjang perjalanan ke Prambanan, gue peluk lekat-lekat si 7up di dalam tas dalam rangka menyemangati diri sendiri selama perjalanan menuju puncak Candi Prambanan. *eaa… *manjat-manjat candi*. Tapi tragis, sampe di hamparan candi, 7up tidak gue temukan. Ah~ sedih sekali lah pokonya saat itu. Perasaan udah gue simpenin rapet-rapet, ini malah kabur kemana?!! Apa gue terlalu posesip? -__-“

Saat itu gue uring-uringan. Ainun yang ga tau menahu soal passion gue terhadap 7up Cuma bilang “Yaudah sih, nanti juga bisa beli lagi!” Bagaimanapun kata-kata Ainun tidak membuat gue tenang. Dalam pikiran gue cuma satu: itu 7up meeeen… minuman yang di minum sama tokoh di film "My Sister Keeper", dan setahu gue, di Alfamart Rawa Lumbu minuman itu ga dijual. Titik!

Akhirnya dengan wajah lusuh dan langkah gontai, akirnya kita pulang. Gue menuruni kawasan Candi Prambanan sambil menggerutu dalam hati “7up mana 7up?!!”

Dan tibalah kita di jalan yang tadi sempat dilewatin, di sana ada mushola, mushola yang tadi dipake Ainun solat dzuhur. Dan tau ga lo apa yang gue liat??

Di beranda mushola ada abang-abang pemotong rumput yang lagi duduk sambil kipas-kipas dengan celana panjang yang digulung sampe lutut, dan di sampingnya ada botol ijo bertuliskan 7up yang udah diminum setengahnya. Bagai petir di siang bolong *Jleb. Eh, salah efek *Jgerrr!!! “Itu 7up gue bang!!” gue berkata murka, dalam hati sih. Mulailah gue merengek sama Ainun yang cuma menanggapi dengan hal yang sama dan menganggap gue bocah banget.

Bagaimanapun gue merasa abang-abang itu itu jahat. Masa minuman yang ketinggalan di musola diembat juga. Keterlaluan bang! Sejak saat itu gue ga pernah yakin bisa nemu 7up lagi.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya hari ini gue diajak Lina ke Crocodile Hole a.k.a Lobang Buaya. Sebelum sampe sana, gue mampir ke Indomaret buat beli minum. Dan di sana… Di kulkas merah itu... Kulkas nomor dua di Indomaret Kemang Pratama… ada dua botol 7up yang bertengger manis dan kedinginan. Langsung saja, tanpa ragu gue ambil salah satu dari mereka, dan mesem-mesem saat bertemu dengan mba kasir. *Loh?!

BTW setelah gue minum, ga ada sensasi apa-apa. Cuma berasa minum soda biasa, biasa banget! Enakan obat masuk angin gue, Sprite. Entahlah, mungkin passion gue terhadap 7up yang dulu sudah terenggut. Direnggut sama abang-abang pemotong rumput di Prambanan yang jahat itu. *Cih!

Sekian.
Share:

June 06, 2012

Miss Julie di Bulan Juni

Mismar di foto sambil menahan pipis  :P

Sabtu (2/6) malam gue beruntung sekali di ajak Bu kicau dan Mismar menyaksikan pagelaran teater berjudul Miss Julie di Salihara, tempat Irsya Manji di gerebek FPI pasca kemarin. Anyway, pertunjukannya cukup membuat gue awkward, karena dialognya menggunakan ejaan bahasa Indonesia baku. Jadi agak kaku aja gitu dengernya.

Well, sebenarnya gue adalah tipe orang yang memang agak lemot dalam menterjemahkan bahasa puitis berima, jadi pas si Jean (tokoh dalam drama) ngomong-ngomong soal taman bunga, tapal kuda, ranting pohon dan semacamnya gue masih yang bengong. Maksudnya apa barusan? Tunggu, tunggu. Mbak, bisa di rewind? *Plak!

Komunitas Salihara di Jl. Salihara No.16 itu disainnya artistik dan terlihat ekslusif, tapi keren banget. Pertunjukannya… Keren *komentar standar*. Over all, gue ga terlalu paham apa yang gue dapet setelah nonton dramanya. Gue malah asik liat adegan nari-narinya dan membayangkan gimana rasanya kalo gue ada di panggung itu, jadi salah satu penarinya. Another silly imagination of me. Tapi yang bikin gue ngakak adalah ketika Mis Julie (Ine Febriyanti) menyebut-nyebut nama belakang gue, ga tanggung-tanggung. Sampe 3x, "salam.. salam.. salam..," katanya. Awalnya menurut gue itu ga lucu sama sekali. Tapi orang yang duduk di samping kanan *lirik Bu Kicau* ketawa-ketiwi setiap nama daun jenis bumbu masakan itu disebut. Gue kan jadi ketawa juga kan, kan, kan. Segala bisik-bisik sama orang di sebelah kanannya lagi -__-“ Jadilah saya ditubi berbully-bully.

Kalo masalah pulang malem atau pulang pagi sekalian, gue ga pernah ada masalah. Tapi malem itu mendadak jadi 4lay. Kedepak angin jam 12 malem aja masuk angin. Tambah 4lay lagi saat gue men-twit perihal masuk angin tersebut. Tapi jelas, tidak akan membuat gue kapok pulang malam :p

Terimakasih Tiket nya Bu Kicau :))


*Lesson Of the day : Ternyata masuk angin bisa menaikan kadar ke-4lay-an.
Share:

May 30, 2012

#Day28 – Kampung Daun


Jadi tanggal 25 kemarin saya beserta tiga orang teman berkesempatan untuk pergi ke Lembang Bandung, dengan tujuan mencari tempat diluar kota Bekasi dan Jakarta untuk di jadikan reportase dan didokumentasikan dalam video yang akan dikumpulkan untuk tugas akhir semester mata kuliah speaking nantinya. Salah satu tempat yang direkomendasikan penduduk lokal adalah Kampung Daun.

Setelah saya berkunjung, hanya satu kata untuk tempat itu. Amazing. Dengan konsep yang menawarkan nature Lembang yang sejuk serta desain rumah makan yang beda daripada yang lain.
Jadi meja makannya dibentuk berdasarkan saung-saung kecil. Yang berderet dengan nama S1 untuk Saung pertama dan seterusnya. Dapurnya di rancang khusus, selain itu banyak sekali aksesoris tradisional seperti lampu yang dihiasi dengan aseupan dan obor-obor yang terbuat dari cempor. Dan dinyalakan saat malam menjelang. Sayangnya saya dan teman-teman datang saat pagi, jadi kelap kelip lampunya tidak bisa kami nikmati. FYI, tempat ini mulai beroperasi pada jam 11 am.

 NB : Foto yang ada akunya Blur pemirsa -__-"

Ah, sulit sekali mendeskripsikan tempat itu. Sempatkan saja datang ke Kampung Daun jika memang ada kesempatan ke Lembang. It’s an amazing place. Trust me, it works. -__-“


** Sayangnya belum ada yang buat Kampung Bunga bu @iFlowery :O
Share:

#Day24 – 7 Tahap Sukses Hitchhiking

Menuju Observatorium Boscha  (dari kiri: Putri, Santi, Ainun)

Rasanya saya senang sekali bisa melakukan hitchhike yang resmi!  

Resmi? Semacam pake surat izin hitchhiking gitu? lol. Sebenarnya, hitchhike itu nama keren dari nebeng berkendara. Ini biasanya dilakukan para backpacker yang mau menghemat biaya transportasi atau memang karena kehabisan ongkos di tengah perjalanan ataupun karena alasan tertentu yang menyebabkan seseorang tersesat di suatu tempat.

Saya dan hitchhike adalah sahabat lama. Dulu waktu SMP kelas 1, sepulang sekolah, saya dan teman-teman juga suka nebeng-nebeng gitu sama bapak-bapak yang bawa mobil truk atau kol buntung yang hendak masuk ke kampung kami. Jarak dari rumah dan sekolah saya waktu itu lumayan jauh sekitar 2 kilometer. Untuk nebeng berkendara kami tidak selalu melambai-lambai tangan kepada pengemudi mobil yang lewat. Sepeti bisa membaca muka-muka letih kami, biasanya bapak pengemudi akan memperlambat laju mobilnya, kemudian kami beramai-ramai akan naik atau sekedar nangkel di mobilnya dan melompat turun sembarangan ketika mobilnya masih jalan. JANGAN TIRU ADEGAN INI! 

Saya cuma berhasil satu-dua kali nebeng mobil bak terbuka yang lewat. Di banyak kesempatan kakak laki-laki saya akan kesal karena saya pake rok panjang dan ga bisa ikutan ngejar truk dan ikutan nangkel (ini bahasa apa sih sebenernya?). Tapi akhirnya dia yang ngalah, melihat saya kewalahan ngejar, dia lompat turun dari truk, dan memutuskan berjalan bersama saya sampai rumah. Thank you, bro!

Waktu di Lembang kemarin saya dan teman-teman niat banget pengen nyoba hitchhike, walaupun sebenernya ada angkot lewat. Berhubung kami punya banyak waktu dan tidak terburu-buru, mencari tumpangan gratis sangat menarik untuk dicoba. Terlebih di daerah sesejuk dan seramah Lembang, tidak ada hambatan sama sekali. Memetik pelajaran masa SMP dan pengalaman hitchhike pas ke Lembang, saya membuat beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam melakukan hitchhike.

  • Pertama dan yang terpenting adalah niat. Solat aja butuh niat, apalagi hitchhiking. Okesip. Nah ini juga penting karena satu tolakan dari satu, dua, tiga mobil akan menciutkan niat kita untuk hitchhiking (kecuali kalo emang kepepet).
  • Perhatikan wilayah dimana kamu bisa menemukan banyak mobil lewat, biasanya mobil bak terbuka lebih berpeluang besar dijadikan tumpangan, terlebih jika kamu bersama rombongan besar. Nah kebetulan kemarin saya beserta teman-teman (berempat) dengan mudahnya bertemu mobil bak terbuka di Lembang, dan kosong sehabis mengantarkan sayur-mayur atau tanaman hias. 
  • Julurkan tangan dengan jempol terangkat (atau dengan gaya apapun) ke arah mobil yang dikehendaki. 
  • Lakukan poin sebelumnya kepada sebanyak-banyaknya mobil yang lewat dan sekiranya berpeluang besar untuk dinaiki. Maksudnya, kalo ada BMW atau Mercedes lewat, ga usah digaet juga, cuy. Semakin banyak mencoba, semakin banyak juga peluang dapat tebengan. Ingat hukum probabilitas; akan ada 2 kesempatan dalam 10 kali percobaan. Di Lembang kami juga tak jarang menemukan pengemudi yang menolak untuk di-tebengi, mungkin karena terburu-buru. Ya, intinya optimis dan pantang menyerah.
  • Setelah dapat mobil, jangan lupa bertanya tentang tujuan si bapak pengemudi dan cocokkan dengan tujuan kalian, supaya bisa berdiskusi dulu gimana baiknya hubungan kalian kedepannya *eh. Jangan sampe kalin dibawa ketempat yang aneh-aneh dan berakhir dengan judul berita di pojokan koran. *halah!
  • Berterimakasihlah setelah turun dari mobilnya.
  • Serta lambaikan tangan setelahnya (ini opsional).
Share: