Showing posts with label ulasan. Show all posts
Showing posts with label ulasan. Show all posts

October 08, 2015

Perpustakaan Aldiko-nya Uki #1

Mungkin kalo liburan saya kali ini berlokasi di kota besar dimana sarana transportasi dan tempat-tempat wisatanya serba mudah diakses, saya akan kelayapan tiap hari dan hanya menghabiskan waktu di rumah untuk istirahat karena capek. Tapi beruntungnya saya liburan di Penajam, Kota ‘kecil’ penghasil batu bara, minyak dan gas yang usianya baru 13 tahun. Perlu waktu 30 menit nyebrang teluk dari Balikpapan menggunakan Klotok (perahu mesin) menuju Penajam.

Saya beruntung karena waktu ‘nganggur’ yang melimpah akhirnya koleksi buku di perpustakaan pribadi saya di Aldiko akhirnya satu per satu berhasil saya tamatkan. Aldiko adalah salah satu aplikasi pembuka konten buku elektronik yang tampilannya lumayan kece. Jadi tampilannya dibuat seperti rak buku beneran, jadi saya berasa punya perpustakaan virtual. Plus, Aldiko bisa buka file berformat epub!

Selama empat bulan lebih liburan di Penajam, ada belasan novel yang berhasil saya tamatin. Kebanyakan novel kontemporer bergenre young-adult gitu sih. Ini agak menurunkan derajat saya sebagai lulusan sastra. Tapi seriusan, saya juga coba baca The Tales of Two City-nya Dickens, baru lima halaman langsung self-talking; maksudnya gimana? Novel canon bahasanya nyastra banget. Makanan zaman kuliah yang entah kenapa sekarang jadi kurang berselera dimakan. Novel kontemporer bahasanya cenderung lebih gampang jadi kadang semalem juga kelar, hehe. Jadi sebenernya saya mau nulis tentang buku-buku apa aja yang udah saya baca, tapi kok pengantarnya banyak amat yak?

Anyway, saya akan mengurut buku secara acak. Tadinya mau berdasarkan rating, tapi saya bingung sendiri, yaudah lah ya.

  • Getting Over Garett Denaley oleh Abby McDonald
Novel ini adalah novel remaja kontemporer berbahasa Inggris pertama yang saya baca. Bahkan saat ponsel saya kameranya belum bisa jungkir balik, masih Nokia candy bar yang banyak solatipnya, saya udah namatin buku ini.
Novel ini berkisah tentang Saddie, remaja perempuan yang naksir sama sahabatnya, Garett. Bisa dibilang, Garett itu anak sastra yang ideologis dan satu-satunya teman yang bisa ngimbangin pemikirannya cuma Saddie. Pokoknya mereka nempel kaya prangko deh.Tapi Garett ga tau perasaan Saddie, jadinya ya dia suka cerita-cerita soal pacarnya, minta saran, dll yang bikin Saddie agak nyesek. 
Satu hari Garett akhirnya pergi ke kemah menulis musim panas selama satu bulan liburan, sementara Saddie kerja magang di sebuah kedai kopi karena ga lolos seleksi masuk kemah nulis musim panas itu. Bekerja di kedai kopi, Saddie bertemu orang-orang baru yang sedikit banyak mengubah pemikirannya, terutama soal Garett. 
Akhirnya Saddie memutuskan untuk melakukan detox untuk melupakan Garett. Apakah detoxnya berhasil ketika akhirnya Garett menyatakan cinta pada Saddie? Baca sendiri bukunya. Buat yang males nongkrongin layar hape cuma buat baca novel, saya pernah liat buku ini dijual di toko buku Aksara.
Hal yang paling berkesan buat saya di buku ini adalah step-step detoxnya Saddie untuk melupakan Garett yang dibuat selang beberapa halaman, jadi semacam ada "Tips Melupakan Si Dia" tersembunyi dalam novel. Lucu.

  • Crash oleh Lisa McMann
Crash adalah buku pertama dari seri vision (pengelihatan). Bercerita tentang remaja perempuan bernama Julia Demacro yang pada suatu hari memiliki pengelihatan aneh tentang sebuah tabrakan yang akan terjadi. Adegan yang dilihatnya adalah sebuah truk menabrak sebuah bangunan bata merah, dan kebakaran. Sayang, cuma dia yang bisa lihat. Jadi sepanjang jalan, di bilboard dan papan iklan, bakal muncul adegan kecelakaan itu. Julia sempat cerita ke adik dan kakaknya, tapi malah dikira lagi ‘teler’ jadi di sini Julia digambarkan menanggung beban sendiri.
Hal yang akhirnya bikin Julia naggepin serius pengelihatannya adalah ketika akhirnya pengelihatnnya itu menampakan wajah Sawyer Angotti di dalam kantong mayat setelah kecelakaan berlangsung.
Sawyer Angotti dan Julia Demacro adalah teman masa kecil yang sebenernya saling suka. Tapi keluarga Angotti dan keluarga Demacro merupakan saingan bisnis restoran pizza. Setelah dua keluarga ini tau anaknya berteman dekat, mereka langsung ngelarang Julia dan Sawyer untuk berteman atau bahkan bertemu.
Kembali ke cerita, meyakinkan Sawyer bahwa restorannya akan mengalami musibah dan keluarganya akan meninggal bukan hal yang mudah bagi Julia. Tapi Julia tetep ngasih peringatan ke Sawyer. Tapi sayang, Sawyer ga nanggepin dengan serius. Demi keberlangsungan Hidup lelaki yang dicintainya, Julia akhirnya nekat bawa mobil restoran keluarganya dan menyelamatkan Sawyer. Truk yang harusnya menabrak restoran Angotti ditabrakin ke mobilnya. Lalu ‘CRASH!’
Hal yang paling berkesan di buku ini buat saya adalah hubungan antara Julia dan kakak laki-lakinyanya Tyler serta adik perempuannya Rowan yang menurut saya COOL abis. Mereka saling dukung, saling sayang dan ada untuk satu sama lain tanpa stereotipe adek-kakak Indonesia; tua selalu benar, muda harus nurut ke yang tua, muda harus sopan ke yang tua, dan blah blah blah. 
Oh, dan saya naksir sama Tyler, tapi sayang dia gay, heuheu.. (T.T)

  • Bang oleh Lisa McMann
Bang adalah buku kedua dari seri  vision, kali ini yang mendapat pengelihatan adalah Sawyer Angotti. Jadi abis diselamatin sama Julia, Sawyer jadi ketularan punya pengelihatan. Tapi yang dilihatnya bukan kecelakaan macem julia, tapi adegan penembakan, makannya judulnya, Bang. Mungkin kalo adegannya  jualan pecel, judulnya Mbak *emaap.
Di sini Sawyer lebih beruntung daripada Julia karena demi penyelamatan yang akan dilakukan, ia dibantu Julia dan Tyler, dia ga sendiri. Adegan penembakan terjadi di sebuah acara galang dana di salah satu universitas yang digelar oleh organisasi LGBT. Penembak adalah dua orang; pria dan wanita yang ga suka sama organisasi itu di kampus. Aksi penembakan itu untuk menunjukkan tindakan agresif menentang keberadaan kaum LGBT di kampus itu.
Tapi pada akhirnya, Sawyer, Julia dan Tyler berhasil menghentikan aksi penembakan itu dan menyelamatkan delapan nyawa yang dalam pengelihatan Sawyer akan terbunuh. Di sini Tyler kena tembak dan karena aksi heroik ini juga akhirnya dia nemu jodoh.
Yang paling berkesan di novel ini adalah ketika bapaknya Julia memergoki Tyler dan Julia lagi ngobrol bareng Sawyer di perpustakaan sekolah. Si Mr. Demacro ngancem bakal ngehukum mereka kalo ga ikut pulang sekarang juga. Tapi Tyler bilang gini;
"No, you watch me. Watch me sit here and do my homework like an excellent student. What the heck is wrong with you? I'll be home when I'm finish with it, and I'll get a good grade like I always do, and then I'll go to work for you and do a good job there, too. But right now, I'll sit with Sawyer Angotti if I feel like it, so don't even go there. This stupid rivalry ends with your generation. It doesn't exist in mine."

  • Dear Killer oleh Katherine Ewell
Novelnya agak serem sih ini. Tentang remaja perempuan, anak SMA yang ternyata adalah pembunuh dengan julukan ‘The Perfect Killer’ yang lagi dikejar-kejar kepolisisan Inggris. Digambarkan bahwa kasus pembunuhan yang dilakukannya melebihi kasus Jack the Ripper. 
Dari kecil si Kit Ward udah diajarin bela diri dan teknik membunuh yang bersih, rapi dan tanpa jejak oleh sang ibu. Umur 12 tahun si Kit sudah mulai pembunuhan perdananya. Setelah si Kit menjalankan tugas, ibunya berenti dan mewariskan pekerjaan ke anaknya. 
Jadi ceritanya mereka pembunuh independen yang menganut ideologi moral nihilisme, bahwa ga ada yang namanya salah atau benar. Nilai baik buruk di masyarakat itu cuma bikinan. Bahwa sesungguhnya pembunuhan yang mereka lakukan itu justru memperketat pengamanan di Inggris, menjaga rasa sayang dan kewaspadaan keluarga-keluarga di Inggris karena ancaman yang mereka tebar. 
Kit punya kotak rahasia di toilet sebuah kafe di mana kliennya akan meninggalkan amplop berisi surat dan sejumlah uang. Di dalam surat mereka akan menyebut nama korban dan alamat. Tapi di akhir cerita si Kit ini berhasil ketangkep sama temannya sendiri, seorang polisi yang lagi nanganin kasusnya The Perfect Killer.
Walaupun agak aneh buat saya, bagaimana si ibu berhasil mendoktrin Kit dan membuat dia jadi pembunuh 'terhormat'. Saya lumayan suka sama cara penceritaannya.

  • Too Cool for This School oleh Kristen Tracy
Ini ceritanya tentang anak SMP, Lane Cisco (12) yang kedatengan sepupu satu-satunya dari Alaska, Mint, yang dia nilai aneh tapi ternyata jadi yang paling populer di sekolah. Lane dan teman-temannya adalah remaja putri yang orientasinya penampilan, pendapat orang, dan harus selalu tampil cantik. Sementara Mint, sepupunya dari Alaska adalah ornag yang supel, mudah bergaul dan apa adanya. Jadi weh semua orang suka sama dia.
Kepopuleran sepupunya ini ga disukai sama temen-temen deketnya Lane, terutama Ava. Soalnya Mint merebut perhatian orang-orang dari mereka, termasuk perhatian Jagger, anak laki-laki di kelas yang ditaksir Ava. Hadeuh. (-__-)“
Mint cuma dateng dan bersekolah satu bulan di situ, karena ibunya baru menikah lagi dan sedang berbulan madu. Jadinya ia dititipkan ke rumahnya Lane, satu-satunya kerabat yang dimiliki ibunya. Lane dan teman-temannya sempat merencanakan hal yang buruk terhadap Mint, tapi selalu gagal.
Satu hari Ava, mensabotase buku harian Mint yang isinya hasil pengamatan jujur Mint tentang anak-anak kelas dalam kalimat negatif. Dengan memublikasikan tulisan pribadi Mint, Ava sukses bikin anak-anak jadi sebel sama dia. Tapi akhirnya di penghujung waktu, ketika si Mint harus pulang, Lane akhirnya baikan sama sepupunya itu. Dan Mint berusaha maafin Ava, walaupun akhirnya ga ketemuan juga sih mereka.
Cover bukunya sih yang paling saya suka dari novel ini, hehe.


Tadinya mau saya bikin semua ulasan singkat novel yang ada di perpustakaan Aldiko saya. Tapi ternyata pegel juga ngetiknya, apalagi nanti yang baca. Jadi saya memutuskan untuk bikin tulisan ini berseri, five books each. Well, until then. Have a nice book!
Share:

September 19, 2015

Magang di Magdalene

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat ulang tahun yang kedua kepada Magdalene! Semalam pestanya digelar di Face Bar, Jakarta. Sayang sekali saya tidak bisa hadir. Anyway, ada yang tau, pernah baca, atau malah pembaca setia Magdalene? Magdalene adalah majalah dual bahasa (Inggris-Indonesia) berbasis web yang kontennya menyuarakan isu-isu yang jarang dimuat di media kebanyakan. Majalah yang bertagline 'a slanted news to woman and issues' ini berkantor pusat di Jakarta. Sejujurnya, pengalaman saya di Magdalene, saya anggap sebagai pengalaman kerja professional saya yang pertama.

Awal cerita magang saya di Magdalene adalah berkat bertemunya saya dengan Mba Devi Asmarani, chief editor Magdalene. Mba Devi adalah jurnalis yang sudah melanglang buana di dunia jurnalistik; pernah bekerja di The Straits Times dan The Jakarta Post. Waktu itu saya membaca kicauan Mba Devi di Twitter yang di-retweet oleh akun @harigelita (BTW, saya masih berhutang terimakasih sama si Mba cantik satu ini). Kicauannya berisi pencarian Junior Assistant Project (JAP)  untuk membantu penggarapan buku politik. Syaratnya cuma dua: tertarik sama dunia politik dan jurnalistik.

Awalnya saya kurang pede, soalnya saya bukan mahasiswa ilmu komunikasi atau mahasiswa ilmu politik. Saya hanyalah seorang mahasiswa sastra yang durhaka sama pembimbingnya *Plak!. Saya memang suka mengikuti perkembangan politik, at least saya bukan orang yang ignorance. Lalu saya punya blog, punya tugas esai tiap minggu, dan juga punya catatan harian yang mengindikasikan saya suka menulis (kecuali nulis skripsi). Berbekal kesukaan saya itu, akhirnya saya memperbaharui CV dan saya kirimkan ke surel Mba Devi.

Singkat cerita setelah kirim CV lewat surel, beberapa hari kemudian saya di-interview via telepon. Interviewnya cenderung santai, waktu itu sekitar jam tiga sore setelah selesai perkuliahan. Saat itu berdekatan dengan waktu pemilu, maka pertanyaan yang diajukan seputar pengetahuan dasar politik. Mba Devi menanyakan mengenai sumber berita apa saja yang saya baca, pengetahuan saya soal calon presiden yang diusung masing-masing partai, serta pendapat saya soal politik Indonesia secara umum.

Keesokan harinya saya diajak kopi darat sama Mba Devi di Epicentrum. Saya pikir saya bakal melalui tahap seleksi ke sekian dengan setidaknya satu atau dua kandidat lain. Ternyata saya sudah dalam pertimbangan diterima! Tapi sebelumnya saya dijelaskan mengenai tugas yang akan saya tangani, dan uang saku yang akan saya terima. Uang sakunya berapa? Buat ukuran anak kuliah yang ngekos dan belum lulus model saya waktu itu, sangat bermanfaat. Sebelum resmi bekerja, terlebih dulu saya menandatangani surat perjanjian kerahasiaan. Hal ini untuk menjaga kerahasian data-data yang diberikan kepada saya.

Junior Assistant Project itu pekerjaan yang menyenangkan. Tugas utama saya adalah membuat transkrip wawancara Mba Devi dengan orang-orang di kalangan politik. Asyiknya adalah, saya jadi banyak tau hal-hal baru, terutama pengetahuan politik, istilah-istilah politik yang asing buat saya, plus pendengaran saya bertambah tajam, hahaha.

Jadi.. kapan saya magang di Magdalenenya?

Ga lama setelah saya jadi junior assistant, Mba Devi menawari saya untuk magang di Magdalene sebagai pengurus akun Facebook dan Twitter bahasa kerennya mah Social Media Officer. Karena moto hidup saya; makin banyak mencoba hal baru, makin banyak pengetahuan yang didapat, maka saya setuju untuk bergabung. Dan begitulah awal ceritanya saya magang di Magdalene. Saya lalu bertemu Magdalene sister lain, ada Mba Hera Diani (managing editor), Mba Stu (designer) dan juga orang-orang yang banyak membantu dari balik layar seperti Mba Lala dan Mas Paul. Saya bersyukur bisa mengenal orang-orang luar biasa dibalik Magdalene. Semangat, ide, dan kerja keras mereka benar-benar menginspirasi. Sebagai media yang menampung 'suara-suara' terabaikan oleh media lain seperti isu gender, LGBT, agama, dan lainnya, tidak hanya komentar positif yang datang. Namun saya yakin kedepannya Magdalene akan menjadi media yang besar tidak hanya di Indonesia.

Pesta Ulang Tahun Magdalene yang Pertama
Tugas utama saya sebagai social media officer adalah mempromosikan tulisan-tulisan yang pernah dipublikasikan di website Magdalene baik yang baru maupun yang lama. Plus, saya pernah belajar jadi reporternya Magdalene. Sempat satu kali saya bertugas ke Universitas Indonesia untuk meliput seminar yang digelar oleh UI Liberalism & Democracy Study Club (UILDSC) dan Support Group and Resource Center on Sexuality Studies UI (SGRC UI). Pengalaman pertama saya jadi reporter bisa dibilang tidak mulus sama sekali. Padahal tugas saya cuma dateng, simak seminarnya, dan yang utama: nge-twit! karena Magdalene di acara tersebut jadi media partner.Nanti pas pulang saya tinggal bikin tulisan singkat soal acaranya. Tapi saking nervesnya, dag-dig-dug pisan, saya lupa nge-twit! Malah sibuk bikin catetan buat bahan nulis nanti malem. BTW, kalo mau baca hasil reportase saya, bisa ngintip halaman ini.

Setelah setahun lebih bekerja dengan orang-orang di Magdalene, tanpa saya sadari pengalaman tersebut memperkaya sudut pandang serta values yang tidak diajarkan lingkungan sekitar saya bahkan orang tua saya. Seperti menemukan keluarga baru yang mengajarkan saya banyak hal. Seperti menemukan keluarga baru yang tidak judgemental. That's priceless. Saya bekerja dari bulan November 2013 sampai bulan Juli tahun ini.

Trus kenapa saya resign?

Setelah lulus kuliah saya sempat diajak oleh istri dari Guru ngaji saya untuk ikut ke Bima, NTB. Dari sini jiwa petualang saya menyala-nyala, saya semangat sekali untuk kesempatan seperti ini, seperti akan memulai perjalanan baru dalam hidup saya. Guru saya akan ikut pencalonan Bupati Bima di pilkada serentak tahun ini. Saya diminta jadi asisten Ibu Guru untuk urusan kampanye. Karena saya takut nantinya saya akan pergi jauh dan tidak akan sempat menangani tugas saya di Magdalene, maka saya memutuskan untuk resign. Mba Devi dan Mba Hera menghargai keputusan saya ini.

Waktu itu rencananya saya akan berangkat ke Bima setelah saya lulus kuliah, namun tanggal keberangkatan semakin mundur. Terakhir, ternyata pencalonan Guru saya batal. Seperti kebanyakan masalah calon pimpinan politik, uang adalah musuh besar. Akhirnya saya tidak jadi pergi ke belahan Indonesia bagian timur seperti yang sempat saya bayangkan. Tapi akhirnya kekecewaan saya dibayar dengan liburan panjang ke tempat Teteh saya di Penajam, Kalimantan Timur.

Sekian cerita magang saya di Magdalene. Ada yang tertarik magang di Magdalene? Mungkin bisa tanya langsung ke editornya Magdalene via surel, soalnya posisi saya sebagai social media officer sudah ada yang gantiin, hehe. Tapi kalau ada yang suka menulis, Magdalene menerima, bukan cuma tulisan, tapi juga gambar dan video yang bisa dipublikasi. Good Luck!
Share:

September 17, 2015

Magang di Penerbit Erlangga


Kesempatan magang saya pertama kali sebenernya bukan di Penerbit Erlangga. Waktu SMA saya juga pernah magang di PT. Tatto di Bogor. Di sana saya magang bersama empat orang teman saya dengan tujuan mengisi waktu libur. Tugas saya di pabrik stiker adalah mengecek kualitas stiker, jika ada yang rusak, tidak sesuai cetakan, atau potongannya yang tidak pas langsung dipisahkan. Stiker yang dicetak di sana adalah stiker untuk body motor keluaran Honda.

Jujur saja saya merasa bosan karena setiap hari kerjaannya cuman melototin lembaran stiker, dari pagi sampe sore. Akhirnya magang saya di pabrik stiker itu ga sampe sebulan, baru tiga hari saya udah ngabur bersama dua orang teman, Deby dan Ayuning. Sementara dua orang lain tetap menyelesaikan masa magang mereka dan pendapatkan uang saku. Makannya pengalaman di pabrik stiker tidak layak saya persembahkan sebagai 'pengalaman magang pertama', karena cuma sekelebat dan jelas, tidak tuntas. Jangan dicontoh ya.

Di Erlangga saya juga tidak sendiri, saya ditemani kawan seperjuangan, Badzlina Halaw biasa dipanggil Lina, pet name-nya Otong. Ide magang kami di Erlangga disponsori oleh mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL). Mata kuliah PKL ini adalah mata kuliah semester tujuh. Namun kami diberikan waktu selama libur semester enam untuk melaksanakannya, biar nanti tidak mengganggu jadwal pembelajaran di semester tujuh. Kami hanya tinggal membuat laporan (saat UTS), setelah itu sidang presentasi (saat UAS), lalu mendapat nilai akhir.

Dalam pelaksanaannya, PKL tidak harus menyasar posisi pegawai kantoran. Kami juga bisa melakukan kegiatan yang bersifat sosial atau wirausaha. Misalnya teman saya ada yang menjadi pengajar Bahasa Inggris di panti asuhan selama satu bulan ada juga senior saya yang membuka bimbel kecil-kecilan di sekitar rumahnya. Sayangnya minat saya lebih ke ranah media, tapi yang sifatnya lebih santai. Salah dua teman saya ada yang magang di Radar Bekasi dan Radio Dakta, media juga sih, tapi menurut saya terlalu serius.

Sebelumnya saya kebelet banget pengen magang di majalah Gogirl!, tapi setelah membaca pengalaman orang-orang, kebanyakan dari mereka magang di Gogirl! karena ada event tertentu. Jadi saya batalkan niat kirim CV. Tapi setelah saya beneran magang di Gogirl! setahun kemudian, ternyata kalian bisa loh coba magang di sana walaupun ga ada event. Tapi memang tergantung pihak Gogirl!-nya mau menerima anak magang saat itu atau tidak. Yang penting kirim CV!

Harapan magang di Gogirl! pupus, teman saya Lina mengajak saya untuk mencoba peruntungan kami di PT. Penerbit Erlangga. Lina pendapat informasi bahwa senior kami ada yang pernah magang di Erlangga. Jadi kemungkinan kami diterima lebih besar. Bukan nepotisme loh maksudnya, tapi tempat yang pernah menerima anak magang biasanya akan selalu merekrut anak magang ke depannya. Jadi kami penuh optimisme.

Waktu itu kami pergi ke kantornya Erlangga yang ada di Ciracas, Pasar Rebo. Setelah memperbaharui CV dan dibungkus rapi amplop cokelat, kami menitipkan CV di pos satpam dan kami diberitakan untuk menunggu feedback yang katanya akan datang lewat telepon.

Tiga hari setelah CV kami dikirim belum ada kabar. Akhirnya setelah seminggu menunggu, kami memutuskan untuk follow up. Kami menelepon HRD Erlangga untuk memastikan apakah kami diterima atau tidak magang di sana, kalau tidak kami berniat untuk mencari perusahaan lain karena waktu liburan kami sudah menipis. Akhirnya selang beberapa hari kami dipanggil untuk interview singkat dan langsung tandatangan surat perjanjian. Yes, we've got the job!

Sebenarnya Erlangga menerima anak magang yang akan bertugas minimal delapan minggu. Tapi karena waktu liburan kami terbatas, maka kami hanya bertugas selama tujuh minggu. Itu juga setelah dipotong seminggu waktu kuliah kami. Sebabnya mungkin karena kami datang di waktu yang kurang tepat, saat itu masih dalam suasana lebaran di mana sebagian besar perkantoran sibuk dengan libur panjang. Jadi CV kami agak lambat diproses. Apapun itu, yang pasti kami behasil menyusup!

Nah baiklah, jadi apa yang kami kerjakan di sana?

Departemen Bahasa Inggris Erlangga punya web pembelajaran bahasa Inggris. Tugas utama kami adalah membuat materi pembelajaran yang diambil dari buku cetak (terbitan Erlangga pastinya) kelas 1-6 SD untuk dipakai sebagai materi pembelajaran di web tersebut. Materinya kami buat di Power Point yang kemudian kami konversi ke format flash video (swf).

Selain itu kami juga mengerjakan hal lain, seperti mengecek buku cetak yang direvisi, membandingkan antara cetakan lama dan cetakan baru jika ada perbedaan atau kesalahan. Selebihnya kami membantu Tim Bahasa Inggris dengan apapun yang bisa kami dikerjakan.

Beruntung saya sempat ikut melihat proses perekaman audio untuk buku bahasa Inggris Erlangga. Studio rekamannya terletak di daerah Ciputat. Saat itu saya bertemu dua warga negara Australia, Pak John dan Bu Anna yang suaranya sering kalian dengar di audiobook Erlangga. Mereka sudah sering mengisi suara untuk buku pelajaran Erlangga loh. Kata Mba Widi, pengisi suara audiobook haruslah orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Inggris.

Oiya, di Departmen Bahasa Inggris Erlangga kami bekerja dengan para editor buku pelajaran Bahasa Inggris, ada Pak Wahyu, Mba Tyas, dan Mba Widi Tapi yang paling sering kami bantu adalah Mba Tyas. Sekilas info: Mba Tyas dan Mba Widi ternyata berasal dari Jogja. Untuk menjadi editor buku pelajaran di Erlangga mereka melalu beberapa tes terlebih dahulu. Sudah pasti ga bisa sembarangan orang yang bisa jadi editor, harus beneran nerd orang yang cinta sama pendidikan dan ilmunya memang udah ngelotok di bidangnya, dan keliatannya Erlangga cukup selektif. Saya sih boro-boro bisa masuk, grammar saya kacau, tenses aja sampai sekarang ga hapal. Alamak! Kurang durhaka apa saya.

Dari atas: Mba Widi, Pak Wahyu, Mba Tyas.
Hal yang paling saya suka di ruang kerja Erlangga adalah warna hijau cerah kubikalnya dan akuarium jumbo yang isinya ikan-ikan laut. Oh, dan makanan di kantinnya. Di Kantin Erlangga anak magang juga kebagian jatah makan siang loh. Selain makan siang, kami diberikan ongkos harian sebesar dua puluh ribu rupiah per hari (diberikan di akhir) potongan berlaku jika bolos kerja dan atau terlambat masuk. Jika diakumulasi memang tidak beberapa, tapi semuanya terbayar dengan nilai A yang saya dan Lina terima. Alhamdulillah.

Bersyukur Lina punya kendaraan pribadi super awesome yang bernama Blumo. Hampir 80% perjalanan saya menuju Erlangga selama 7 minggu terlaksana berkat nebeng Blumo. 60 menit perjalanan dari Bekasi lewat Pondok Gede-TMII-Pasar Rebo. God bless Blumo and its owner!

Setelah selesai magang, sempat beberapa kali Lina dihubungi, mungkin mau ditawari bekerja di sana karena memang pengetahuan Bahasa Inggrisnya lebih baik dibanding saya. Tapi sayangnya tawaran itu tidak Lina diambil, mungkin karena pertimbangan jarak yang cukup jauh dari Bekasi.

Sekian bagi-bagi cerita magangnya. Simak cerita magang saya berikutnya di Magdalene.
Share:

September 16, 2015

Epilog: Berbagi Pengalaman Magang

Sebenernya agak malu punya blog yang udah lama ga diurus begini. Semacem punya rumah tapi lampunya ga pernah dinyalain, gelap. Yah tapi seenggaknya nyetor satu tulisan hari ini. Jadi saya berasa nyalain lampu untuk beberapa hari ke depan. Plus, saya juga sudah melakukan renovasi dan pengecatan ulang, Yippee!
Jadi.. ceritanya saya sudah lulus dari Program Studi Sastra Inggris di sebuah universitas kurang ternama yang terletak di pinggiran ibu kota. Kampus saya berada di samping jalan tol Bekasi-Cikampek, kalo yang sering lewat pasti tau deh soalnya tulisannya pake kapital semua: UNIVERSITAS ISLAM 45' BEKASI disingkat Unisma. Sebenarnya Unisma cukup tenar di kalangan masyarakat Bekasi dan sekitarnya. Kurang tenarnya di telinga teman-teman SMA saya, soalnya kalo mereka nanya, "Kuliah di mana?" pertanyaan keduanya pasti, "Unisma apaan sih?" atau "Unisma itu di mana ya? Di Malang bukan?" *nangis* *pesen tiket kereta ke Malang*
Biarlah dengan ketenaran, toh saya bisa menilai jurusan Sastra Inggris-nya ga main-main soal kualitas pengajarnya. Dua dosen saya lulusan Leeds University dan Brimingham University lho, ihiy! Selain itu banyak mata kuliah menarik, terutama di semester pertengaham menuju akhir. Mata kuliah menantang yang jadi favorit saya seperti Subtitling, New Media, Creative Writing, Interpreting, dan lainnya. Lihat di sini untuk mengintip kegiatan Sastra Inggris Unisma.
Bulan April tahun ini saya diwisuda setelah dengan tidak tahu malunya minta tanda tangan dosen pembimbing skripsi saya. Kata beliau (dan diamini oleh diri saya sendiri) tulisan saya belum layak untuk dinyatakan lulus. Sebenernya itu kesalahan saya karena males bimbingan. Dikasih waktu sebulan revisi, eh tiba-tiba nodong minta tanda tangan sehari sebelum skripsi dikumpulin. Dan sampai sekarang saya masih malu kalo ketemu  beliau. Jangan kutuk anak bimbingan durhakamu ini, Pak.
Sebelum lulus, saya pernah berkesempatan magang di tiga tempat; Penerbit Erlangga, Majalah Gogirl!, dan Magdalene Webmagazine. Biasanya kalo saya baca pengalaman kerja/magang orang lain di tempat yang saya pengenin, hal pertama yang ada di benak saya adalah; gimana sih caranya bisa masuk ke situ?
Karena hari ini mood saya lagi baik, saya mau membagi cerita bagaimana saya bisa menyusup ke dalam tiga wahana magang tersebut. Tapi kelihatannya bakal saya pisah dari postingan ini.
Sebelumnya saya sudah pernah membuat postingan agak narsis soal magang di Gogirl!, silahkan intip tulisannya di sana dan di sini.
Sementara saya meramu tulisan soal magang di Erlangga dan di Magdalene, saya mau cerita sekelebat kehidupan paska lulus kuliah. Tidak seperti teman-teman saya yang setelah (bahkan ada yang sebelum) lulus langsung mencari pekerjaan, saya malah kabur ke tempat kakak saya di Penajam, Kalimantan Timur. Aturan pertama: jangan pernah lewatkan liburan gratis. Maka di sinilah saya, pengangguran baru lulus yang gaya banget liburan ke luar pulau. Jangan iri, saya hanya sedikit beruntung masih ada yang mau nampung. Terlebih saya kecolongan start untuk memulai kehidupan mandiri dibanding teman-teman saya. Pff
Share: